Senin, 13 Oktober 2014

PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI INDONESIA DILIHAT DARI JENIS KELAMIN


HIV/AIDS merupakan penyakit yang menakutkan ini adalah salah satu penyebab utama kematian di antara laki-laki dan perempuan di negara berkembang dan negara maju. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perkembangan HIV/AIDS di Indonesia di lihat dari jenis kelamin. Sebaiknya kita mengetahui terlebihdahulu Apa yang dinamakan HIV? dan Apa yang dinamakan AIDS itu?. HIV adalah singkatan dari  “human immunodeficiency virus adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup. Virus ini akan memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya, karena tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti deman (disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion. Seroconversion adalah pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena serangan demam yang berulang.
Meskipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darahair manicairan vaginacairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darahjarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan infeksi oportunistik (Zein, 2006).
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).
PENYEBARAN DALAM TUBUH



Penyebaran virus dalam tubuh sampai terjadinya infeksi yaitu diawali dengan  masuknya virus ke dalam sel darah putih. Materi genetik virus yang dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinteksi. Di dalam sel, Virus berkembng biak pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan pertikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki satu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor biasanya, disebut sel CD4+ atu disebut limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan menagatur sel-sel lain pada sistem kekebalan.(misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T stitostik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga teradi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infksi dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi HIV akan kehilangan limfosit Tpenolong melalui 3 tahap selama beberpa bulan atau tahun.
1.       Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV sejumlah sel menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat dalam luar darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
2.      Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus didalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dak kadar Limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter mendapati orang-orang yang berisiko tinggi menderita AIDS.
3.       1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya turun hingga 200 sel/Ml darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.

Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B. Limfosit B adalah limfosit yang menghasilkan antibodi. Seringkali HIV meyebabkan produksi antibodi berlebihan. Antibodi yang diperuntukkan melawan HIV dan infeksi lain ini banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS.
Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan  Sistem kekebalan tubuh dalam mengenali dan sasaran baru yang harus diserang.

HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.

 Dari tahun 2008-2014 perkembangan HIV/AIDS triwulan II  di Indonesia yang dilaporkan untuk jumlah infeksi HIV sebanyak 8.908 kasus, rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.  dan untuk jumlah infeksi AIDS sebanyak 1.492 kasus, rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah2:1. Berikut merupakan tabel dan grafiknya :

Tabel 1. Persentase Infeksi HIV Yang Di Laporkan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008-2014
NO
TAHUN
JENIS KELAMIN
JUMLAH
LAKI-LAKI
(%)
PEREMPUAN
(%)
1.
2008
6,797
65.6
3,565
34.4
10,362
2.
2009
6,334
64.7
3,459
35.3
9,793
3.
2010
13,231
61.3
8,360
38.7
21,591
4.
2011
11,766
55.9
9,265
44.1
21,031
5.
2012
12,193
56.7
9,318
43.3
21,511
6.
2013
16,758
57.7
12,279
42.3
29,037
7.
2014
9,006
58.0
6,528
42.0
15,534
·         Laporan Provinsi Melalui SIHA per 8 Agustus 2014
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi,2014

Berdasarkan hasil laporan DinKes 2014 menurut jenis kelamin pada tahun 2008-2014  sangat flukluatif, terlihat dari perkembangan dari tahun ke tahun meningkat dan menurun. Pada tahun 2008 hingga tahun 2009 mengalami penurunan jumlah kasus pada laki-laki sebesar 463 dan pada perempuan 106 kasus. Dan pada tahun berikutnya terjadi peningkatan pada laki-laki sebesar 6.897 dan perempuan 4.901 kasus. Jumlah kasus terbesar infeksi HIV terjadi pada tahun 2013 yang berjumlah untuk laki-laki 16.758 dan untuk perempuan 12.279 kasus. Dan untuk jumlah kasus terendah terjadi pada tahun 2009 untuk laki-laki 6.334 dan untuk peremuan 3.459.


Tabel 2. Persentase AIDS yang Dilaporkan Menurut Jenis Kelamin Tahun 1987-2014

NO
TAHUN
JENIS KELAMIN
TIDAK MELAPORKAN JENIS KELAMIN
(%)
TOTAL
LAKI-LAKI
(%)
PEREMPUAN
(%)


1.
Sd 2005
3,019
58. 2
892
17.2
1,273
24.6
5,184
2.
2006
2,250
61.4
833
22.7
582
15.9
3,665
3.
2007
2,652
57.0
1,208
26.0
795
17.1
4,655
4.
2008
3,041
59.5
1,573
30.8
500
9.8
5,114
5.
2009
3,467
57.1
1,858
30.6
748
12.3
6,073
6.
2010
3,429
49.6
2,092
30.3
1,386
20.1
6,907
7.
2011
3,564
48.7
2,297
31.4
1,451
19.8
7,312
8.
2012
4,336
49.6
2,918
33.4
1,493
17.1
8,747
9.
2013
3,008
48.0
1,837
29.3
1,421
22.7
6,266
10.
2014
1,116
65.6
584
34.4
-
0.0
1,700
TOTAL

29,882
53.7
16,092
28.9
9,649
17.3
55,623
*sampai dengan Juni 2014
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi, 2014
Data ini termasuk data dari Provinsi DKI Jakarta yang jumlah AIDS nya tidak bisa dikategorikan secara jenis kelamin,
sehingga dimasukkan ke dalam kategori tidak melaporkan jenis kelamin.

Berdasarkan hasil laporan DinKes Provinsi 2014 menurut jenis kelamin pada tahun 2005-2014  sangat flukluatif, terlihat dari perkembangan dari tahun ke tahun meningkat dan menurun. Pada tahun 2005 hingga tahun 2006 mengalami penurunan jumlah kasus pada laki-laki sebesar 769 dan pada perempuan 59 kasus. Dan pada tahun berikutnya terjadi peningkatan pada laki-laki sebesar 402 dan perempuan 375 kasus. Jumlah kasus terbesar infeksi HIV terjadi pada tahun 2012 yang berjumlah untuk laki-laki 4.336 dan untuk perempuan 2.918 kasus. Dan untuk jumlah kasus terendah terjadi pada tahun 2014 untuk laki-laki 1.116 dan untuk peremuan 584 kasus.
Pada kasus di atas juga terlihat bahwa jenis kelamin laki-laki selalu lebih tinggi dari tahun ketahun pada penderita infeksi HIV/AIDS di bandingkan dengan berjenis kelamin perempuam. Hal itu di sebabkan salahsatunya oleh penggunaan jarum suntik bersamaan yang tercemar virus HIV/AIDS pada penyalah gunaan NAPZA suntik dan hubungan heteroseksual di bandingkan pada jenis kelamin perempuan.




REFERENSI: