HIV/AIDS
merupakan penyakit yang menakutkan ini adalah salah satu penyebab utama kematian di antara laki-laki dan
perempuan di negara berkembang dan negara maju. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perkembangan HIV/AIDS di
Indonesia di lihat dari jenis kelamin. Sebaiknya kita mengetahui terlebihdahulu
Apa yang dinamakan HIV? dan Apa yang dinamakan AIDS itu?. HIV adalah singkatan dari “human immunodeficiency virus“
adalah
jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media
hidup. Virus ini akan memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang
terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah
terkena tumor.
Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus,
namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Sebagian besar
orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya, karena tidak ada gejala yang tampak segera
setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang
menimbulkan efek seperti deman (disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri
sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion. Seroconversion adalah
pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan
tiga bulan setelah terjadinya infeksi HIV akan tetap sehat dalam
beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena
serangan demam yang berulang.
Meskipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang
terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain. HIV
dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung
antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau
aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air
mani, cairan
vagina, cairan
preseminal,
dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi
melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum
suntik yang terkontaminasi, antara
ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui,
serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Satu-satunya cara untuk menentukan
apakah HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV. Seorang
pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa
pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai infeksi
baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang
dikenal dengan infeksi oportunistik (Zein, 2006).
AIDS adalah singkatan
dari “Acquired
Immuno Deficiency Syndrome”
yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh
yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk
melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS
melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya
berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).
PENYEBARAN
DALAM TUBUH
Penyebaran virus dalam tubuh sampai
terjadinya infeksi yaitu diawali dengan masuknya virus
ke dalam sel darah putih. Materi genetik virus
yang dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinteksi. Di dalam sel, Virus berkembng
biak pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan pertikel virus yang baru.
Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan
menghancurkannya.
Virus
menempel pada limfosit yang memiliki satu reseptor protein yang disebut CD4,
yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor biasanya,
disebut sel CD4+ atu disebut limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi
mengaktifkan dan menagatur sel-sel lain pada sistem kekebalan.(misalnya
limfosit B, makrofag dan limfosit T stitostik), yang kesemuanya membantu
menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Infeksi HIV
menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga teradi kelemahan sistem
tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infksi dan kanker.
Seseorang
yang terinfeksi HIV akan kehilangan limfosit Tpenolong melalui 3 tahap selama
beberpa bulan atau tahun.
1.
Seseorang yang sehat memiliki limfosit
CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah
terinfeksi HIV sejumlah sel menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini
penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus
yang terdapat dalam luar darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi
tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
2.
Setelah sekitar 6 bulan, jumlah
partikel virus didalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada
setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain
terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dak kadar Limfosit CD4+ yang
rendah membantu dokter mendapati orang-orang yang berisiko tinggi menderita
AIDS.
3.
1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah
limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya turun hingga 200 sel/Ml
darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan
pada fungsi limfosit B. Limfosit B adalah limfosit yang menghasilkan antibodi.
Seringkali HIV meyebabkan produksi antibodi berlebihan. Antibodi yang
diperuntukkan melawan HIV dan infeksi lain ini banyak membantu dalam melawan
berbagai infeksi oportunistik pada AIDS.
Pada saat yang bersamaan, penghancuran
limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan Sistem
kekebalan tubuh dalam mengenali dan sasaran baru yang harus diserang.
HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai
bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah
menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.
Dari
tahun 2008-2014 perkembangan HIV/AIDS
triwulan II di Indonesia yang
dilaporkan untuk jumlah infeksi HIV sebanyak 8.908 kasus, rasio HIV antara laki-laki dan
perempuan adalah 1:1. dan untuk
jumlah infeksi AIDS sebanyak 1.492 kasus, rasio AIDS antara laki-laki dan
perempuan adalah2:1. Berikut merupakan tabel
dan grafiknya :
Tabel 1. Persentase Infeksi HIV
Yang Di Laporkan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008-2014
NO
|
TAHUN
|
JENIS KELAMIN
|
JUMLAH
|
|||
LAKI-LAKI
|
(%)
|
PEREMPUAN
|
(%)
|
|||
1.
|
2008
|
6,797
|
65.6
|
3,565
|
34.4
|
10,362
|
2.
|
2009
|
6,334
|
64.7
|
3,459
|
35.3
|
9,793
|
3.
|
2010
|
13,231
|
61.3
|
8,360
|
38.7
|
21,591
|
4.
|
2011
|
11,766
|
55.9
|
9,265
|
44.1
|
21,031
|
5.
|
2012
|
12,193
|
56.7
|
9,318
|
43.3
|
21,511
|
6.
|
2013
|
16,758
|
57.7
|
12,279
|
42.3
|
29,037
|
7.
|
2014
|
9,006
|
58.0
|
6,528
|
42.0
|
15,534
|
·
Laporan
Provinsi Melalui SIHA per 8 Agustus 2014
Sumber: Dinas Kesehatan
Provinsi,2014
Berdasarkan hasil laporan DinKes 2014 menurut jenis
kelamin pada tahun 2008-2014 sangat
flukluatif, terlihat dari perkembangan dari tahun ke tahun meningkat dan
menurun. Pada tahun 2008 hingga tahun 2009 mengalami penurunan jumlah kasus pada
laki-laki sebesar 463 dan pada perempuan 106 kasus. Dan pada tahun berikutnya
terjadi peningkatan pada laki-laki sebesar 6.897 dan perempuan 4.901 kasus.
Jumlah kasus terbesar infeksi HIV terjadi pada tahun 2013 yang berjumlah untuk
laki-laki 16.758 dan untuk perempuan 12.279 kasus. Dan untuk jumlah kasus
terendah terjadi pada tahun 2009 untuk laki-laki 6.334 dan untuk peremuan
3.459.
Tabel 2. Persentase AIDS yang Dilaporkan Menurut Jenis
Kelamin Tahun 1987-2014
NO
|
TAHUN
|
JENIS KELAMIN
|
TIDAK
MELAPORKAN JENIS KELAMIN
|
(%)
|
TOTAL
|
|||
LAKI-LAKI
|
(%)
|
PEREMPUAN
|
(%)
|
|||||
1.
|
Sd 2005
|
3,019
|
58. 2
|
892
|
17.2
|
1,273
|
24.6
|
5,184
|
2.
|
2006
|
2,250
|
61.4
|
833
|
22.7
|
582
|
15.9
|
3,665
|
3.
|
2007
|
2,652
|
57.0
|
1,208
|
26.0
|
795
|
17.1
|
4,655
|
4.
|
2008
|
3,041
|
59.5
|
1,573
|
30.8
|
500
|
9.8
|
5,114
|
5.
|
2009
|
3,467
|
57.1
|
1,858
|
30.6
|
748
|
12.3
|
6,073
|
6.
|
2010
|
3,429
|
49.6
|
2,092
|
30.3
|
1,386
|
20.1
|
6,907
|
7.
|
2011
|
3,564
|
48.7
|
2,297
|
31.4
|
1,451
|
19.8
|
7,312
|
8.
|
2012
|
4,336
|
49.6
|
2,918
|
33.4
|
1,493
|
17.1
|
8,747
|
9.
|
2013
|
3,008
|
48.0
|
1,837
|
29.3
|
1,421
|
22.7
|
6,266
|
10.
|
2014
|
1,116
|
65.6
|
584
|
34.4
|
-
|
0.0
|
1,700
|
TOTAL
|
29,882
|
53.7
|
16,092
|
28.9
|
9,649
|
17.3
|
55,623
|
|
*sampai dengan Juni 2014
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi, 2014
Data ini termasuk data dari Provinsi DKI Jakarta yang jumlah AIDS nya
tidak bisa dikategorikan secara jenis kelamin,
sehingga dimasukkan ke dalam kategori tidak melaporkan
jenis kelamin.
Berdasarkan hasil laporan DinKes Provinsi 2014 menurut
jenis kelamin pada tahun 2005-2014
sangat flukluatif, terlihat dari perkembangan dari tahun ke tahun
meningkat dan menurun. Pada tahun 2005 hingga tahun 2006 mengalami penurunan
jumlah kasus pada laki-laki sebesar 769 dan pada perempuan 59 kasus. Dan pada
tahun berikutnya terjadi peningkatan pada laki-laki sebesar 402 dan perempuan 375
kasus. Jumlah kasus terbesar infeksi HIV terjadi pada tahun 2012 yang berjumlah
untuk laki-laki 4.336 dan untuk perempuan 2.918 kasus. Dan untuk jumlah kasus
terendah terjadi pada tahun 2014 untuk laki-laki 1.116 dan untuk peremuan 584
kasus.
Pada kasus di atas juga terlihat bahwa jenis kelamin
laki-laki selalu lebih tinggi dari tahun ketahun pada penderita infeksi HIV/AIDS
di bandingkan dengan berjenis kelamin perempuam. Hal itu di sebabkan
salahsatunya oleh penggunaan jarum suntik bersamaan yang tercemar virus HIV/AIDS
pada penyalah gunaan NAPZA suntik dan hubungan heteroseksual di bandingkan pada
jenis kelamin perempuan.
REFERENSI:

